Rabu, 13 Maret 2013

JUJURLAH.....,


Suatu hari seorang pemuda datang menemui seorang kyai, pemuda itu bertanya kepada kyai. “kyai usaha saya bangkrut, saya terlilit hutang, keluarga juga sekarang tidak harmonis, bagaimana solusinya ?”
Jawab kyai ; “jujurlah”
“Nasehat yang lainnya” Tanya pemuda
Jawab kyai : “jujurlah”. Lalu pemuda itupun pulang.

Suatu hari seseorang datang menemui Rasulullah, ia bertanya pada Rasulullah. Ya Rasulullah, saya selalu melakukan maksiat, berikan nasehat agar saya tidak lagi melakukan maksiat”.
Jawab Rasulullah ; “jujurlah”.

Rasululloh tentu tidak menjawab secara sembarangan, lihat surah Al-Ahzab ayat 70-71 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu pada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu”. 

Yang saya pahami dari ayat ini, apabila kita beriman, bertakwa dan berkata benar (jujur) maka Alloh yang akan memperbaiki amal-amal kita (salah satu pengertian yang saya pahami dari memperbaiki amal-amal yaitu memperbaiki kebiasaan negatif yang ada pada diri kita).

Lalu bagaimana logikanya ?
Prilaku maksiat itu berasal dari kebiasaan negatif (mabuk,zina dll), begitu juga dengan usaha bangkrut, hutang dan masalah keluarga itu salah satu penyebab terbesarnya adalah karena kebiasaan negatif yang kita lakukan misalnya malas, boros, makan riba, tidak sabar, dll.

Jadi ketika kita punya masalah, kita coba bercermin apakah penyebabnya berkaitan dengan kebiasaan negatif yang kita punya. Apabila berkaitan maka salah satu solusinya yaitu  ‘Jujurlah’.
Jujur kepada diri sendiri, jujur kepada Tuhan dan jujur kepada orang lain.

*Jujurlah, maka Tuhan yang akan memperbaiki hidup kita menjadi lebih baik.

Senin, 11 Maret 2013

KEKELIRUAN BERFIKIR

Pada suatu hari H.Agus Salim (Pahlawan nasional) melakukan kunjungan kenegaraan ke jepang bersama ajudannya. Tiba di bandara beliau di jemput oleh rombongan pemerintah jepang, tiba-tiba H.Agus Salim mengucapkan salam “assalamualaikum”, sang ajudan kaget lalu berbisik kepada beliau, “kenapa kyai mengucapkan salam pada mereka, bukankah mereka orang-orang kafir”. “saya bukan mengucapkan salam sama orang kafir, saya mengucapkan salam siapa tahu diantara mereka ada saudara kita yang sesama muslim” jawab beliau. Dan tidak lama kemudian salah satu peserta rombongan orang jepang menjawab salam beliau. Sambil tersenyum beliau berbisik pada ajudannya, “betulkan diantara mereka ada yang muslim”.

                Salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah cara pandang mereka. Sang ajudan berpandangan bahwa jepang adalah bukan negara muslim, jadi pasti tidak ada orang muslimnya (apalagi waktu itu adalah sekitar tahun 1950-an), dan ini dalam ilmu komunikasi disebut dengan cara berfikir meng-generalisasi. Sedangan H.Agus Salim berfikir sebaliknya,  beliau berfikir walaupun jepang bukan negara islam tetapi mungkin sudah ada muslim didalamnya ini disebut berfikir dengan proporsional.

                Dalam buku REKAYASA SOSIAL karangan DR.Jalaludin Rahmat ada bab khusus yang menerangkan tentang KEKELIRUAN BERFIKIR dan salah satunya adalah Berfikir Dengan Meng-Generalisasi Segala Sesuatu. 

General itu artinya umum, jadi arti berfikir dengan General adalah berfikir dengan cara menyamakan segala sesuatu dengan hanya melihat sebagian. Contoh berfikir dengan menggenerilisasi :

“Kita mendengar bahwa sebagian anggota DPR korupsi, terus kita beranggapan bahwa semua anggota DPR itu koruptor”.  _padahal tidak semua anggota DPR koruptor.

“Kita berbeda pendapat dengan salah seorang ulama dari golongan tertentu, terus kita menyimpulkan bahwa golongan tersebut semua pengikutnya adalah keliru, dan menyimpulkan bahwa hanya pendapat kitalah yang paling benar”. Padahal mungkin saja ilmu kita yang belum nyampe, sehingga kita belum memahami pendapat ulama itu, dan kita juga tidak tahu  bagaimana variasi orang-orang disekitarnya dalam memahaminya. 

Ada sebuah kasus yang sangat menarik, ketika orang-orang kafir mempropagandakan bahwa Osama bin Laden adalah teroris, sederhananya ada tiga respon yang dilakukan orang-orang non muslim.

•             Pertama, bersikap masa bodoh.

•             Kedua, orang yang berfikir bahwa osama adalah teroris dan osama beragama islam, jadi islam adalah agama teroris. Inilah cara berfikir dengan menggeneralisasi, sebuah tanda-tanda mempunyai kekeliruan dalam berfikir. Inilah orang-orang yang sering menghina islam dan mereka termasuk Islamphobia (orang yang membenci islam).

•             Ketiga, orang yang berfikir bahwa osama adalah teroris dan osama beragama islam, tetapi islam itu seperti apa?. Maka dia akan mempelajari islam, dan insyalloh memeluk islam karena mendapat hidayah dari Alloh. Inilah cara berfikir dengan proporsional.

Lihat efek dua cara berfikir ini begitu berbeda. Yang satu cara berfikir ajudan sedangkan yang satunya cara berfikir seorang pemimpin, yang satu jadi seorang islamphobia yang satunya mendapat hidayah. Sekarang terserah kita mau memilih yang mana apakah cara berfikir General atau Proporsional, lihat efeknya akan jadi apa nanti kita dimasa depan.

*Dengan berfikir secara proporsional, maka kita akan semakin bijak dalam menyikapi segala sesuatu.

Jumat, 08 Maret 2013

KUTIPAN #2



10.      “Engkau berfikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas” (Ali bin Abi Thalib).


11.       “Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan impian mereka” (Eleanor Rooselevelt).

12.      “Jika anda tidak menyukai hasilnya, maka rubahlah pendekatan anda” (Burke Hedges).

13.      “Tak ada hal yang besar atau baru yang bisa di buat tanpa antusias. Antusias adalah roda gila yang menggerakan gergaji menembus bagian yang paling keras dari batang kayu” (Dr. Harvey Cushing).


14.      Keberhasilan bukan di tentukan oleh besarnya otak seseorang, melainkan oleh besarnya cara berfikir seseorang” (David j. Schwartz).

15.      “Ada orang yang tidak pernah mengubah pikirannya. Itulah orang-orang yang tidak pernah berfikir sama sekali” (Mirabeau).

16.      “Cara terbaik membantu seseorang adalah mencari tahu apa yang mereka inginkan dan kemudian memberi saran bagaimana menjalankannya” (Harry Truman).

17.      Orang gagal adalah orang yang melakukan suatu kesalahan tapi tidak mengambil hikmah dari pengalaman itu” (Elbert Hubbard).

18.      “Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri, urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan urusan-Nya lah untuk memikirkan saya” (Simone weil).


19.  Dialah yang membuat yang tiada menjadi tampak nyata, dan meskipun nyata ada Dia pulalah yang membuatnya menjadi tidak tampak” (Jalaludin Rumi).